Arief - 4 Juli 2015
Semenjak 2006.
Argentina
kini mendapat kesempatan lagi untuk meraih trofi internasional. Tahun
lalu di Brazil mereka juga berada di posisi yang sama, sayang saat itu
Lionel Messi dan kawan-kawan harus takluk dari Jerman yang untuk pertama
kali sebagai wakil Eropa mampu menjadi jawara di dataran Amerika Latin.
Dalam beberapa turnamen internasional penampilan tim Tango sebenarnya
cukup menjanjikan. Dimulai kala mereka harus terbang jauh ke negara
yang baru saja menambah bintang jadi empat di atas lambang federasi
sepak bola. Mereka harus rela perjuangan sampai di babak perempat final,
melawan tuan rumah adu penalti jadi penghenti langkah. Kala itu Jens
Lehmann berhasil jadi pahlawan dengan mematahkan beberapa algojo.
Selang setahun kemudian dalam turnamen antar negara-negara CONMEBOL
dan undangan, Tango mampu melaju sampai ke partai puncak. Sayang di laga
pamungkas ini mereka tidak bisa berbuat banyak menghadapi Brazil.
Alhasil harus puas dengan status runner up, tiga kali gawang mereka
dibobol tanpa bisa dibalas satu kalipun.
Kembali tampil pada ajang paling bergengsi di Afrika Selatan,
lagi-lagi Jerman jadi momok menakutkan bagi mereka. Dan juga masih di
fase yang sama dengan empat tahun sebelumnya yakni perempat final, skor
akhir buktikan bahwa mereka masih harus belajar banyak dimana Die
Mannschaft cetak empat gol.
Tahun 2011 kesempatan untuk mengakhiri puasa gelar terbuka setelah mereka
menjadi tuan rumah Copa America. Namun ini tidak lantas buat langkah
menjadi mudah, terseok-seok di fase grup kali ini Uruguay jadi aktor
antagonis. Dalam adu penalti Luis Suarez serta rekan-rekan mampu
menghentikan laju Albiceleste bahkan mereka akhirnya keluar sebagai
kampiun sekaligus mengklaim paling sering memboyong trofi.
Seperti telah disebutkan sebelumnya dimana gol dari Mario Gotze
akhirnya memastikan gelar juara dunia ke tangan Jerman, sekaligus
menebal rasa penasaran Argentina karena kerap jadi mimpi buruk. Sekarang
peluang untuk menghapus dahaga gelar kembali terbuka.
Walau banyak mendapat kritik selama gelaran berlangsung namun di
babak semi final tim besutan Tata Martino mampu tampilkan penampilan
selama ini dicari. Mampu cetak empat gol dalam kurun waktu 45 menit
saja, buktikan bagaimana dashyatnya lini depan. Bila mampu mengulang
performa seperti ini maka Chile selaku tuan rumah hanya bisa menggigit
jari karena harus menunggu edisi berikutnya lagi untuk meraih gelar
pertama Copa America.



